BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus)

2011
04.12

1. PENDAHULUAN
Kata Belut merupakan kata yang sudah akrab bagi masyarakat. Jenis ikan ini dengan mudah dapat ditemukan dikawasan pesawahan. Ikan ini ada kesamaan dengan ular kalau sedang berada di atas permukaan sawah, yaitu bergerak dengan melenggok-lenggokan badannya. ke kanan dan ke kiri, serta ciri yang utama badannya berlendir.

Meskipun bentuk badannya yang berbeda, rasa dagingnya yang khas serta kandungan gizi dan proteinnya yang tinggi sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Belut mengandung kandungan asam
lemak tak jenuh sebesar 20%. Jenis lemak yang terkandung dalam Belut termasuk Jenis lemak Omega-3 yang mempunyai manfaat antara lain :

– Mencegah jantung koroner;

– Meningkatkan perkembangan otak (Nutrisi 0tak),

– Membantu menurunkan tekanan darah tinggi (Hypertensi );

– Meringankan penyakit kanker dan ginjal;

– Menambah vitalitas dan stamina;

– Meningkatkan fungsi mata.

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya protein hewani, serta cara pengolahannya yang mudah, Belut mulai populer dan digemari oleh masyarakat desa maupun perkotaan.

Penangkapan secara besar-besaran untuk memenuhi permintaan konsumen menyebabkan populasi Belut makin hari makin berkurang, apalagi jika cara penangkapan yang sangat dilarang oleh pemerintah ,seperti diberi kejutan arus listrik dengan menggunakan accu.

Melihat kondisi tersebut, maka harus dicari cara untuk melestarikannya. Anggota kelompok tani Iwan Hermawan dan Epen Sukendar dengan binaan seorang PPL Wawan Setiawan SP., berhasil melakukan usaha pelestarian, Belut melalui berbagai penelitian danpercobaan selama 8 tahun.
Dengan adanya keberhasilan ini, konsumen tidak harus bergantung pada hasil dari penangkapan liar.

Dari segi bisnis Belut cukup menjanjikan karena permintaan dari dalam dan luar negeri sampai saat ini belum terpenuhi dan makin hari permintaan jumlahnya makin meningkat apalagi ada pengakuan dari beberapa negara bahwa Belut Indonesia khususnya yang berasal dari pulau Jawa mempunyai kualitas paling tinggi.

2. MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG BELUT

Belut merupakan binatang air yang hidupnya harus dengan media lumpur halus. Lalu mengapa Belut harus memakai media lumpur halus sebagai tempat hidupnya? Hal ini dikarenakan :

• Belut memerlukan pengaman untuk tubuhnya dari segala pemangsa dan cuaca dengan memendamkan tubuhnya dalam Lumpur;

• Belut tidak mempunyai sisik dan sirip sehingga mudah terluka;

• Belut dilindungi oleh cairan lendir seperti minyak goreng yang berguna untuk menjaga kestabilan tubuh. untuk mempermudah dalam membuat lubang sebagai tempat tinggalnya;

• Belut dalam mencari mangsa atau makanan dengan menunggu didepan ujung lubang yang dijadikan tempat untuk mengintai karena sifat belut yang pasif;

• Belut akan menjadi aktif dan kanibal apabila merasa lapar atau
jika sedang mencari pasangan untuk melakukan perkawinan sesuai masa pertumbuhannya;

. Belut bukan termasuk ikan yang rakus, oleh karena itu pertumbuhannya lambat dibandingkan dengan jenis ikan lainnya selain itu Belut tidak memiliki pencernaan yang bisa mencerna makanan dengan cepat karena bentuk pencernaannya tunggal memanjang seperti bentuk tubuhnya.

3. CARA REPRODUKSI BELUT

Belut melakukan reproduksi melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Setelah dilakukan pengamatan secara terus menerus di lapangan maka diperoleh hasil Belut dewasa biasanya akan mencari pasangan untuk melakukan perkawinan untuk saling mengisi kekosongan dan saling membuahi. Belut betina akan mencari Belut jantan yang akan membuahi telur yang sudah siap dikeluarkan dari perutnya;

2. Belut jantan akan mencari Belut betina yang sudah siap dibuahi dan membuahinya. Pada masa suburnya Belut bisa lebih dari satu pasangan saling bergerombol dan berkelompok mencari pasangan yang cocok dengan nalurinya. Setelah mendapat pasangan yang cocok biasanya tidak terlalu jauh ukuran tubuhnya, pejantan lebih besar sedikit dengan betinanya;

3. pasangan yang siap melakukan perkawinan akan berenang menuju lubang atau sarang yang sudah dipersiapkan oleh sipejantan di tempat itu dan pasangan ini akan melakukan perkawinan dan dalam perkawinan ini akan saling membuahi;

4. Setelah beberapa hari perkawinan biasanya ada tanda berbentuk busa putih kekuningan di atas permukaan air Belut betina menyimpan telur dalam gelembung busa yang berwarna kuning dan akan ditunggui oleh Belut jantan sampai telur menetas, sedangkan Belut betina setelah mengeluarkan telurnya dia langsung pergi untuk mencari makan karena lapar setelah
melakukan perkawinan atau membuat lubang baru untuk berdiam diri dan mengintip mangsa yang, lewat

5. Telur-telur Belut akan menetas setelah 1- 7 hari, selama itu pula gumpalan busa bisa bertahan sampai telur-telur Belut menetas menjadi larva dan Belut jantan akan menunggu dengan setia;

6. Setelah menetas menjadi benih, maka benih tersebut akan mencari makan sendiri dan harus bisa bertahan dari pemangsa yang kadang-kadang datang dari Belut yang ukurannya lebih besar karena Belut termasuk hewan golongan kanibal. Perjuangan mencari makan dan perlindungan diri harus dilakukan sampai Belut menjadi dewasa (sampai umur 6 bulan).

Menurut pengamatan di lapangan, Belut bisa bereproduksi lebih dari situ kali sesuai dengan kesuburannya, karena Belut merupakan hewan hermaprodit dengan cara saling, mengisi antara jantan dan betina.

Belut termasuk binatang hermaprodit yang menurut pengamatan sebagian orang sulit untuk membedakan antara Belut betina dan jantan, ada yang berpendapat Belut pada awalnya berjenis kelamin betina dan setelah malakukan perkawinan akan berubah menjadi Belut jantan. Selanjutnya Belut jantan yang kosong tidak mempunyai kelamin yang sering disebut Belut banci.

4. PERBEDAAN BELUT JANTAN DAN BETINA

Pada awal mulai dewasa, Belut cenderung kelihatan berjenis kelamin betina karena berisi telur yang siap dikeluarkan dan dibuahi belut jantan dan saat melakukan perkawinan Belut tersebut akan saling membuahi dengan cara alami dan saling mengisi sebagai bentuk pertukaran kelamin sambil membuahi untuk menetas.
Setelah selesai perkawinan Belut jantan akan berubah menjadi betina sedangkan Belut betina akan berubah menjadi jantan.

Demikian siklus ini berlangsung terus selama kondisi masa subur Belut tersebut baik.

…………………………………..jantan……………………….. Betina
Bentuk kepala: …………..tumpul…………………….. runcing
Ukuran badan……………..lebih dari 35 cm………… kurang dari 35 cm
Bentuk ekor……………….. kurang lancip……………. lancip
Umur …………………………diatas 7 bulan………………. dibawah 7 bulan

5. FAKTOR PENDUKUNG DALAM BUDIDAYA BELUT

Sebelum kita membudidayakan Belut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Tempat.
Jawa Barat secara umum memiliki persawahan yang luas dan sawah merupakan tempat yang sangat cocok untuk budidaya Belut.

2. Ketinggian. Ketinggian yang paling baik untuk
budidaya Belut yaitu 500 – 700 dpl.

3. Kualitas air. Air yang dibutuhkan harus air yang jernih, kaya akan oksigen dan tidak tercemar oleh limbah maupun bahan kimia beracun.

4. Suhu udara. Suhu yang sangat mendukung pertumbuhan Belut berkisar antara 28 – 30 derajat celcius.

6. CALON INDUK
Calon induk yang akan digunakan dalam budidaya harus dalam keadaan sehat dengan tanda-tanda sebagai berikut :

• Anggota tubuh utuh dan mulus, tidak ada luka maupun cacat;

• Agresif dan mampu bergerak lincah;

• Tubuh keras dan tidak lemas saat dipegang;

• Umur belut antara 3 – 5 bulan.

7. PAKAN UNTUK BELUT

Di dalam habitatnya, Belut termasuk hewan karnivora. (pemakan daging), karena. Belut memakan segala jenis organisme hidup yang jatuh ke air seperti kutu air, serangga, cacing, berudu, anak kodok, belatung, ikan kecil, bekicot dan marus.

8. HAMA

Hama yang sering ditemui ditempat budidaya. Belut adalah berang-berang, tikus sawah dan ular sawah.

9. PENYAKIT PADA BELUT

Penyebab penyakit yang sering menyerang Belut :
– Kekurangan pakan, menyebabkan Belut lemah dan bersifat kanibal;
– Pemberian pakan yang berlebihan;
– Keracunan yang diakibatkan adanya gas sulfide dari pembusukan tanaman di sekitar kolam;
– Stres disebabkan perubahan suhu air yang mendadak.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008

Penyakit Ikan air tawar

2011
04.12

Hal yang paling ditakutkan seorang pembudidaya ikan hias bila melihat ikan-ikan peliharaannya mati semua. Begitu juga yang dialami salah seorang pembudidaya di Deli Serdang yang namanya tak mau dikorankan.
Ia sangat stress saat mendapati ikannya yang berada di empat kolam dalam keadaan mati dan sekarat. Hampir tidak ada yang diselamatkan karena hanya sedikit saja yang masih kelihatan sehat dan akhirnya semua dibuang dan dimusnahkan.
Bila dihitung kerugiannya cukup besar sampai jutaan rupiah dan rugi waktu. Tetapi hal tersebut merupakan hal yang wajar bagi para pembudidaya ikan air tawar baik ikan konsumsi ataupun ikan hias. Kegiatan budidaya ikan air tawar baik jenis ikan konsumsi ataupun ikan hias merupakan kegiatan yang mempunyai resiko tinggi karena ikan merupakan mahluk bernyawa yang kapan saja mengalami kematian.
Salah satu penyebab gagalnya kegiatan budidaya ikan ini adalah karena faktor penyakit. Munculnya gangguan penyakit pada budidaya ikan merupakan resiko biologis yang harus selalu diantisipasi. Munculnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi kompleks/tidak seimbang antara tiga komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang lemah, patogen yang ganas serta kulitas lingkungan yang memburuk.
Dalam melakukan usaha budidaya ikan, para pembudidaya melakukannya ada yang secara intensif, semi intensif atau asal saja. Semakin intensif sistem budidaya yang diterapkan maka semakin kompleks pula kehadiran penyakit yang akan muncul. Penyakit yang menyerang ikan banyak macam dan ragamnya. Tetapi secara umum penyakit ikan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit infeksius dan non infeksius.
Jenis penyakit infeksius terdiri dari penyakit yang disebabkan oleh parasit, jamur bakteri dan visrus. Sedangkan jenis penyakit non-infeksius disebabkan oleh lingkungan, makanan dan genetis.
Penyakit Infeksius.
1.Parasit
Penyakit yang disebabkan oleh parasit secara umum jarang mengakibatkan penyakit yang sporadis. Tetapi untuk intesitas penyerangan yang sangat tinggi dan areal yang terbatas dapat berakibat sporadis. Akibat dari penyakit yang disebabkan oleh parasit secara ekonomis cukup merugikan yaitu dapat menyebabkan kematian, menurunkan bobot, bentuk serta ketahanan tubuh ikan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai jalan masuk bagi infeksi sekunder oleh patogen lain seperti jamur, bakteri dan virus.
Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini terdiri dari protozoa dan metazoa. Protozoa bersifat parasitik terhadap ikan dan jumlahnya lebih dari 2000 jenis. Salah satu jenis protozoa ang paling sering menjadi kendala dalam budidaya ikan adalah Ichthyophthirius multifiliis atau ich (penyakit bintik putih). Sifat serangannya sangat sporadis dan kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 100 persen populasi dalam tempo yang relatif singkat.
Secara umum gejala ikan yang terserang protozoa adalah
– ikan tampak pucat
– nafsu makan kurang
– gerakan lambat dan sering menggososk-gosokkan tubuhnya ada dinding kolam
– pada infeksi lanjut ikan megap-megap dan meloncat-loncat ke permukaan air untuk mengambil oksigen
– adanya bercak-bercak putih pada permukaan tubuh ikan
Parasit dari golongan metazoa antara lain Monogenetic trematod (golongan cacing), cestoda, nematoda, Cepopoda (Argulus sp, Lernaea sp dan golongan Isopoda. Organ yang menjadi target serangan parasit ini adalah insang. Penularan terjadi secara horisontal terutama pada saat cacing dalam fase berenang bebas yang sangat infektif. Secara umum gejala dari serangan metazoa adalah :
– ikan tampak lemah
– tidak nafsu makan
– pertumbuhan lambat tingkah laku dan berenang tidak normal disertai produksi lendir yang berlebihan
– ikan sering terlihat berkumpul disekitar air masuk karena kualitas dan kadar oksigen lebih tinggi
– insang tampak pucat dan membengkak sehingga overculum terbuka
– ikan sulit bernafas seperti gejala kekurangan oksigen
– peradangan pada kulit akan mengakibatkan ikan menggoso-gosok badannya pada benda sekitar
– badan kemerahan disekitar lokasi penempelan parasit
– pada infeksi berat parasit ini kadang dapat terlihat dengan mata telanjang pada permukaan kulit ikan.
2. Jamur
Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur bersifat infeksi sekunder. Semua jenis ikan air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi jamur. Jenis jamur yang sering menjadi kendala adalah dari famili saprolegniaceae. Beberapa faktor yang sering memicu terjadinya infeksi jamur adalah penanganan yang kurang baik (transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kulaitas telur buruk/tidak terbuahi dan padatnya telur pada kakaban. Penyakit ini menular terutama melalui spora di air. Gejala-gejalanya dapat dilihat secara klinis adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan.
3. Bakteri
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang paling banyak menyebabkan kegagalan pada budidaya ikan air tawar. Penyakit akibat infeksi bakterial masih sering terjadi dengan intensitas yang variatif. Umumnya pembudidaya masih mengandalakan antibiotik sebagai ” magic bullet” untuk melawan penyakit bakterial. Jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri antara lain adalah penyakit merah yang disebabkan oleh bakteri garam negatif (Aeromonas hydrophila), penyakit columnaris atau luka kulit, sirip dan insang yang disebabkan oleh infeksi bakteri Flavobacterium columnare, penyakit tubercolosis yang tergolong sangat kronis disebabkan oleh bakteri gram positif Mycobacterium spp. dan penyakit Streptococciasis yang disebabkan oleh bakteri gram positif Streptococcus spp.
4. Virus
Patogen virus juga menyebabkan penyakit pada budidaya ikan air tawar. Belum banyak diketahui penyakit yang disebabkan oleh virus di Indonesia kecuali penyakit Lymphocystis dan Koi Hervesvirus (KHV). Infeksi lymphoccystis hanya bersifat kronis dan bila menyerang ikan hias akan mengalami kerugian yang berarti karena merusak keindahan ikan.
Sampai saat ini KHV merupakan penyakit yang paling serius dan sporadis terutama untuk komoditi ikan mas dan koi.
Penyakit Non-Infeksi
1. Penyakit akibat lingkungan
Faktor lingkungan dalam kegiatan budidaya ikan air tawar mempunyai pengaruh yang sangat tinggi. Lingkungan juga dapat mendatangkan penyakit dari kegiatan budidaya air tawar. Pengaruh dari penyakit yang diakibatkan oleh faktor lingkungan sering mengakibatkan kerugian yang serius karena kematian yang berlangsung sangat cepat dan tiba-tiba dan mematikan seluruh populasi ikan. Penyebabnya misalnya ada upwelling, keracunan akibat peledakan populasi plankton, keracunan pestisida/limbah industri, bahan kimia dan lainnya.
Faktor lingkungan yang buruk akan menyebabkan ikan menjadi
– tercekik, yaitu kekurangan oksigen yang umumnya terjadi menjelang pagi hari pada perairan yang punya populasi phytoplankton tinggi.
– Keracunan nitrit, yang sering disebut penyakit darah cokelat karena disebabkan oleh konsentrasi nitrit yang tinggi di dalam air yang berasal dari hasil metabolisma ikan.
– Keracunan amonia, terjadi hampir sama dengan nitrit tetapi pada umunya karena pengaruh pemberian pakan yang berlebihan atau bahan organik, sedangkan populasi bakteri pengurai tidak mencukupi. Yang sangat beracun adalah dalam bentuk NH3
– Fluktuasi air yang ekstrim, dimana perubahan suhu air yang ekstrim akan merusak keseimbangan hormonoal dan fisiologis tubuh ikan dan pada umumnya ikan tidak mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan dan mengakibatkan ikan stress bahkan kematian.
– Limbah pollutan, yang terdiri dari logam-logam berat cukup berbahaya bagi ikan karena sifat racunnya yaitu Hg, Cd, Cu, Zn, Ni, Pb, Cr, Al dan Co juga dapat menyebabkan penyakit bagi ikan. Sifat dari masing-masing logam berat tersebut dapat meningkat apabila komposisi ion-ion di dalam air terdiri dari jenis-jenis ion yang sinergik. Selain komposisi ion, nilai PH juga berpengaruh terhadap tingkat kelarutan ion-ion loga. Bila kadarnya tinggi menyebabkan ikan-ikan stress dan bila terus meningkat dapat menyebabkan kematian.
2. Penyakit Malnutrisi
Pemberian pakan yang berlebihan/kekurangan dan tidak teratur juga dapat menyebabkan penyakit pada ikan. Penyakit karena malnutrisi jarang menunjukkan gejala spesifik sehingga agak sulit didiagnosa penyebab utamanya. Tetapi dalam diet pakan dapat mengakibatkan kelainan fungsi morfologis dan biologis seperti defisiensi asam pantothenic penyakit jaring insang ikan yang dapat menyebabkan ikan sulit bernafas yang diikuti dengan kematian, defisiensi vitamin A yang menyebabkan mata menonjol/buta dan terjadi pendarahan pada kulit juga ginjal, defisiensi vitamin B-1 yang menyebabkan kehilangan nafsu makan, pendarahan dan penyumbatan pembuluh darah, defisiensi asam lemak essensial yang berakibat infiltrasi lemak pada kulit dan minimnya pigmentasi pada tubuh ikan. Yang cukup berbahaya adalah karena defisiensi vitamin C yang merupakan penyakit yang umum terjadi dimana akibat yang paling populer adalah broken back syndrome seperti scoliosis dan lordosis
3. Penyakit Genetis
Salah satu penyebab penyakit yang kompleks pada kegiatan budidaya ikan air tawar karena adanya faktor genetik terutama karena adanya perkawinan satu keturunan (inbreeding). Pemijahan inbreeding yang dilakukan secara terus-menerus akan menurunkan kualitas ikan berupa variasi genetik dalam tubuh ikan. Akibat dari pemijahan secara inbreeding adalah :
– pertumbuhan ikan lambat (bantet/kontet) dan ukuran beragam
– lebih sensitif terhadap infeksi patogen
– organ tubuh badan yang tidan sempurna serta kelainan lainnya
Demikain secara garis besar penyakit-penyakit yang biasa menyerang dan dihadapi oleh pembudiaya ikan. Semoga informasi yang ringkas ini dapat bermanfaat khususnya bagi para pembudidaya ikan air tawar. Untuk informasi tentang cara pengendalian penyakit-penyakit tersebut akan ditampilkan dalam edisi selanjutnya.(mag-10)
Sumber :
Dinas Perikanan Sumatera Utara

http://www.hariansumutpos.com/2009/10/penyakit-ikan-air-tawar.html

Comments Off

GINOGENESIS Ikan Lele (Clarias Sp)

2011
04.12

Pendahuluan

Partenogenesis adalah satu-satunya proses reproduksi yang sama sekali tak memerlukan peran pejantan. Keturunan partenogenesis akan betina semua jika dua kromosom yang sama membentuk jenis kelamin betina (sistem kromosomnya XX adalah betina dan XY jantan), salah satunya adalah ginogenesis.
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturnkan. Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan.
Ginogenesis

Parameter Kimia dan Fisika Perairan

2011
04.12

Perairan bersih
Kualitas air merupakan salah satu hal yang paling penting untuk diketahui dalam ekosistem perairan tawar. Kualitas air merupakan penentu keadaan kehidupan. Hal itu dikarenakan kehidupan ekosistem perairan tawar mutlak tergantung pada kondisi perairan.
Untuk menentukan kualitas air, pengamatan dilakukan berdasarkan berbagai parameter air, baik fisika, kimia, dan biologinya. Berikut adalah berbagai faktor fisika-kimia air, alasan dan berbagai hal dasar dalam pengamatan parameter. Hal-hal dasar meliputi alat dan cara sekaligus bagaimana penentuan lokasi serta waktu yang tepat.
1. Suhu
Sebagian besar makhluk hidup di perairan tawar pada umumnya sangat sensitif terhadap perubahan suhu air. Suhu sangat terkait dengan proses metabolisme dalam tubuh, yaitu memengaruhi kerja enzim dalam tubuh makhluk hidup. Oleh karena itulah suhu merupakan faktor penting dalam kehidupan organisme perairan tawar. Suhu juga berpengaruh terhadap berbagai hal, misalnya blooming alga, siklus reproduksi, dan kelarutan berbagai macam zat.
Suhu di ekosistem perairan tawar mudah berubah. Perubahan suhu baik musiman dan harian terjadi pada bagian permukaan dari perairan, sementara bagian dalam biasanya akan lebih konstan. Suhu rata-rata perairan bisa mengalami kenaikan disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pemukiman, industri dan area pertanian.
Suhu secara fisika dinyatakan dalam satuan 0C. Metode pengukuran dilakukan dengan menggunakan termometer atau termistor. Termistor merupakan alat pengukur suhu berbasis elektronik.
Lokasi pengambilan sampel suhu air dapat dilakukan pada tiga level kedalaman, yaitu permukaan, pertengahan dan dasar perairan. Pengukuran juga dilakukan pada tiap musim yang berbeda, misalkan pada musim hujan dan kemarau.
2. pH
Kondisi asam atau basa pada perairan ditentukan berdasarkan nilai pH (power of hydrogen). Nilai pH berkisar antara 0-14, yang mana pH 7 merupakan pH normal. Kondisi pH kurang dari 7 menunjukkan air bersifat asam, sedangkan pH di atas 7 menunjukkan kondisi air bersifat basa.
Makhluk hidup atau biota perairan tawar masing-masing memiliki kondisi pH yang berbeda-beda. Pengaruh pH pada biota terletak pada aktivitas enzim, misalnya dalam pH asam, enzim akan mengalami protonasi. Keasaman juga berpengaruh pada tingkat kelarutan suatu nutrien dalam perairan, yang menentukan keberadaan suatu organisme. Polusi juga bisa diindikasi dari pH yang terkait dengan konsentrasi oksigen (pH rendah pada konsentrasi oksigen rendah).
Keasaman ditentukan dengan memakai kertas pH universal dan pH meter. Pengukuran dilakukan dengan variasi waktu siang dan malam. Langkah tersebut didasarkan pada perbedaan aktivitas biota pada siang dan malam hari. Pengambilan lokasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti transek pada kedalaman yang berbeda dan tempat-tempat yang memiliki potensi menimbulkan pencemaran (sumber pencemaran terpusat).
3. Transparansi dan Turbiditas
Transparansi dan turbiditas sebenarnya ditentukan oleh kadar suspensi padatan dalam air. Transparansi dan turbiditas berbeda baik dari segi alat maupun satuannya. Transparansi memiliki satuan panjang seperti meter, sedangkan turbiditas memiliki satuan NTU (Nephelo Turbidity Unit).
Transparansi perlu diamati karena merupakan indikasi seberapa dalam cahaya mampu melakukan penetrasi ke dalam badan air. Banyak cahaya memengaruhi kehidupan biota fotosintetik, seperti fitoplankton. Produktivitas primer dari perairan juga dipengaruhi oleh transparansi badan air. Ativitas biota fotosintetik dan produktivitas primer akan naik bila nilai transparansi semakin besar.
Turbiditas memengaruhi adanya media untuk menempel bakteri dan logam. Nilai turbiditas yang semakin tinggi memungkinkan adanya kandungan bakteri atau logam yang semakin besar. Pengataman perlu dilakukan untuk mengetahui kaitan antara nilai turbiditas dengan aktivitas biota-biota di perairan tawar.
Transparansi dapat diketahui dengan alat yang dinamakan dengan Secchi disk. Secchi disk merupakan alat berbentuk lempengan bulat dengan kombinasi warna hitam putih. Kejernihan warna hitam putih saat dimasukkan ke dalam air menjadi nilai transparansi badan air. Sementara itu, turbiditas diukur dengan menggunakan turbidimeter.
4. Dissolved oxygen
Dissolved oxygen atau oksigen terlarut sangat menentukan kehidupan biota perairan. Oksigen merupakan akseptor elektron dalam reaksi respirasi, sehingga banyak dibutuhkan oleh biota aerobik. Oksigen juga memengaruhi kelarutan dan ketersediaan berbagai jenis nutrien dalam air. Kondisi oksigen terlarut yang rendah memungkinkan adanya aktivitas bakteri anaerobik pada badan air. Oksigen terlarut dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain penutupan vegetasi, BOD (Biological Oxygen Demand), perkembangan fitoplankton, ukuran badan air, dan adanya arus angin.
Pengukuran oksigen terlarut bisa dilakukan dengan metode sensor oskigen elektronik dan titrasi Winkler. Hasil pengukuran berada pada satuan persen (%) dan mg/L. Pengukuran dilakukan pada variasi siang dan malam serta pada musim yang berbeda. Penentuan siang malam menentukan disebabkan karena adanya aktivitas respirasi dan fotosintesis pada siang hari, sedangkan musim untuk mengetahui pengaruh perbedaan aktivitas makhluk hidup tergantung musim pada kadar oksigen terlarut.
5. Nutrien dalam Badan Air (Si : N : P)
Nitrogen (N), posfor (P), dan silikon (Si) harus berada dalam kondisi perbandingan 16 : 1 : 1. Perubahan perbandingan akan memengaruhi proses suksesi plankton. Nitrogen dan posfor merupakan dua unsur yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas primer ekosistem. Kedua senyawa tersebut juga memengaruhi adanya blooming alga dan merupakan penyebab eutrofikasi. Eutrofikasi merupakan serangkaian proses penumpukan unsur yang menyebabkan suburnya perairan.
Pengamatan tentang nutrien dilakukan pada saat terjadi berbagai musim, akhir dari musim banjir, musim debit air tinggi, dan pengambilan sampel mingguan. Analisis yang dilakukan dapat memakai alat Colourimeter. Spektrofotometer dapat digunakan untuk kadar nutrien yang rendah.
Daftar Acuan:
Bellingham, K. (?). Physicochemical Parameters of Natural Waters. Portland, Stevens Water Monitoring Systems, Inc.: 17 hlm.
Deekae, S.N., J.F.N. Abowei & A.C. Chindah. 2010. Some Physical and Chemical Parameters of Luubara Creek, Ogoni Land, Niger Delta, Nigeria. Research Journal of Environmental and Earth Sciences, 2(4): 199–207.
Durmishi, et al. 2008. The physical, physical-chemical and chemical parameters determination of river water Shkumbini (Pena) (part A). Balwois, 27(?): 1–11.
UNEP. 2004. Surveys & Assessments: Estuarine & Coastal Areas. Osaka, United Nations Environtment Proggrame: 124—136.
University of Illinois. (?) Measurement of water quality. https://wiki.engr.illinois.edu/download/attachments/31394596/Week5.pdf?version=1&modificationDate=1256761898357. 28 Februari 2011, Pkl. 23.37 WIB.

Eutrofikasi

2011
04.12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan yang paling penting bagi semua organisme yang ada di dunia dan tidak terkecuali juga manusia. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan meningkatnya jumlah penduduk di dunia ditambah lagi pengaruh perubahan iklim (climate change), telah banyak menyebabkan pencemaran di lingkungan perairan.
Air dikatakan tercemar apabila ada pengaruh atau kontaminasi zat organik maupun anorganik ke dalam air. Hubungan ini terkadang tidak seimbang karena setiap kebutuhan organisme berbeda beda, ada yang diuntungkan karena menyuburkan sehingga dapat berkembang dengan cepat sementara organisme lain terdesak. perkembangan organisme perairan secara berlebihan merupakan gangguan dan dapat dikategorikan sebagai pencemaran, yang merugikan organisme akuatik lainnya maupun manusia secara tidak langsung. Pencemaran yang berupa penyuburan organisme tertentu disebut eutrofikasi yang banyak di jumpai khususnya di perairan darat.
Pada awal abab ke-20 manusia mulai menyadari adanya gejala eutrofikasi pada badan perairan akibat pengkayaan unsur hara yang masuk ke perairan. Mengingat bahwa eutrofikasi merupakan ancaman yang serius bagi kualitas air di perairan, maka kita harus memahami prosesnya, penyebab, dan dampak dari eutrofikasi sehingga kita dapat mencari solusi yang tepat untuk mencegah dan mengatasi masalah ini. Walaupun eutrofikasi pada umumnya merupakan proses alami, namun pada masa kini eutrofikasi antropogenik yaitu eutrofikasi yang disebabkan oleh aktifitas manusia.
1.2 Tujuan
 Mahasiswa dapat memahami proses, penyebab, dan dampak dari eutrofikasi sehingga dapat mencari solusi yang tepat untuk mencegah dan mengatasi masalah eutrofikasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Eutrofikasi

Eutrofikasi adalah proses pengayaan nutrien dan bahan organik dalam jasad air. ini merupakan masalah yang dihadapi di seluruh dunia yang terjadi di ekosistem air tawar maupun marin. Eutrofikasi memberi kesan kepada ekologi dan pengurusan sistem akuatik yang mana selalu disebabkan masuknya nutrient berlebih terutama pada buangan pertanian dan buangan limbah rumah tangga. (Tusseau-Vuilleman, M.H. 2001).

2.2 Faktor Penyebab Eutrofikasi

Eutrofikasi dapat dikarenakan beberapa hal di antaranya karena ulah manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Hampir 90 % disebabkan oleh aktivitas manusia di bidang pertanian. Para petani biasanya menggunakan pestisida atau insektisida untuk memberantas hama tanaman agar tanaman tidak rusak. Akan tetapi botol – botol bekas pestisida itu dibuang secara sembarangan baik di sekitar lahan pertanian atau daerah irigasi. Hal inilah yang mengakibatkan pestisida dapat berada di tempat lain yang jauh dari area pertanian karena mengikuti aliran air hingga sampai ke sungai – sungai atau danau di sekitarnya.(Finli, 2007)
Emisi nutrien dari pertanian merupakan penyebab utama eutrofikasi di berbagai belahan dunia. Rembesan phospor selain dari areal pertanian juga datang dari peternakan, dan pemukiman atau rumah tangga. Akumulasi phospor dalam tanah terjadi saat sejumlah besar kompos dan pakan ternak digunakan secara besar-besaran untuk mengatur prosduksi ternakbhewan (sharply et al, 1994).
Menurut Morse et. al. (1993) sumber fosfor penyebab eutrofikasi 10 % berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 % dari industri, 11 % dari detergen, 17 % dari pupuk pertanian, 23 % dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 %, dari limbah peternakan. Paparan statistik di atas menunjukkan bagaimana besarnya jumlah populasi dan beragamnya aktivitas masyarakat modern menjadi penyumbang yang sangat besar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan air.
Limbah kotoran ikan dan sisa pakan ikan yang mengandung unsur hara fosfor dan nitrogen akan merangsang pertumbuhan fitoplankton atau alga dan meningkatkan produktivitas perairan. Sebaliknya, dalam keadaan berlebihan akan memicu timbulnya blooming algae yang justru merugikan kehidupan organisme yang ada dalam badan air, termasuk ikan yang dibudidayakan di perairan danau. Penumpukan bahan nutrien ini akan menjadi ancaman kehidupan ikan di badan danau pada saat musim pancaroba. Adanya peningkatan suhu udara, pemanasan sinar matahari, dan tiupan angin kencang akan menyebabkan terjadinya golakan air danau. Hal ini menyebabkan arus naik dari dasar danau yang mengangkat masa air yang mengendap. Masa air yang membawa senyawa beracun dari dasar danau hingga mengakibatkan kandungan oksigen di badan air berkurang. Rendahnya oksigen di air itulah yang menyebabkan kematian ikan secara mendadak. (Anonim, 2010)
Pestisida, obat-obatan dan pakan ternak merupakan sumber elemen P yang dapat menyebabkan eutrofikasi. Pestisida dapat hilang selama penggunaan melalui penyemprotan yang tidak terarah, dan penguapan. Pestisida lepas dari tanah melalui leaching ataupun pengaliran air. Pola reaksi pelepasan pestisida seangat tergantung pada afinitas bahan kimia yang digunakan tergadap tanah dan air, jumlah dan kecepatan hilangnya pestisida dipengaruhi oleh waktu dan kecepatan curah hujan, penggunaan, jenis tanah dan sifat dari pestisidanya. Pestisida dapat mencapai badan air jikatumpahan yang terjadi selama proses pengisian pencampuran pencucian dan penggunaan, melalui aliran air, melalui pelepasan (leaching) kedalam air permukaan yang berbahaya karena dapt mencemari perairan jika tidak diperlakukan dengan hati-hati (anonym, 2004)
2.3 Penanggulangan Eutrofikasi
Penyisihan fosfat dalam fluidized bed reactor (FBR) menggunakan pasir kuarsa dapat menghasilkan kristal struvite (MgNH4PO4). Penyisihan dengan kristalisasi ini dilakukan dengan aerasi kontinyu dan dapat mencapai efisiensi 80% dalam waktu 120 – 150 menit (Battistoni, et al., 1997). Penyisihan fosfat dalam fluidized bed reactor (FBR) menggunakan pasir kuarsa dapat menghasilkan kristal struvite (MgNH4PO4). Penyisihan dengan kristalisasi ini dilakukan dengan aerasi kontinyu dan dapat mencapai efisiensi 80% dalam waktu 120 – 150 menit (Battistoni, et al., 1997).
Menurut Forsberg 1998, yang utama adalah dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk (birth control). Karena sejalan dengan populasi warga bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif fosfat.

2.4 Dampak Eutrofikasi
Kematian massal ikan akibat arus balik, eutrofikasi dan blooming algae setiap tahun terjadi di perairan di Indonesia dengan kerugian yang besar. Di Danau Maninjau pada Januari 2009 saja kerugian telah mencapai Rp 150 miliar dan menyebabkan kredit macet Rp 3,6 miliar. Kerugian ini akibat kematian ikan sekitar 13.413 ton dari 6.286 petak keramba jaring apung (KJA) dan menyebabkan 3.143 tenaga.(anonim, 2010)
Konsekuansi lebih jauh dari aktivitas manusia yang melepaskan fosfat dalam limbahnya adalah: penurunan kualitas air, estetika lingkungan, dan masalah navigasi perairan dan penurunan keanekaragaman organisme air. Senyawa produk yang dihasilkan bakteri anaerob seperti H2S, amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap dan anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk manusia. Beberapa penyakit akut dapat disebabkan oleh racun dari kelompok fitoplankton seperti Paralytic Shellfish Poisoning (PSP), Amnesic Shellfish Poisoning (ASP), dan Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP). Ketiga racun tersebut mampu melumpuhkan sistem kerja otot, saraf, dan jantung biota perairan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Proses Eutrofikasi
Eutrofikasi merupakan proses alamiah dan dapat terjadi pada berbagai perairan, tetapi bila terjadi kontaminasi bahan-bahan nitrat dan fosfat akibat aktivitas manusia dan berlangsung terus menerus, maka proses eutrofikasi akan lebih meningkat. Kejadian eutrofikasi seperti ini merupakan masalah yang terbanyak ditemukan dalam danau dan waduk, terutama bila danau atau waduk tersebut berdekatan dengan daerah urban atau daerah pertanian.
Dilihat dari bahan pencemarannya eutrofikasi tergolong pencemaran kimiawi. Eutrofikasi adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan kedalam ekosistem perairan. Eutrofikasi terjadi karena adanya kandungan bahan kimia yaitu fosfat (PO3-). Suatu perairan disebut eutrofikasi jika konsentrasi total fosfat ke dalam air berada pada kisaran 35-100µg/L. Eutrofikasi banyak terjadi di perairan darat (danau, sungai, waduk, dll). Sebenarnya proses terjadinya Eutrofikasi membutuhkan waktu yang sangat lama (ribuan tahun), namun akibat perkembangan ilmu teknologi yang menyokong medernisasi dan tidak diiringi dengan kearifan lingkungan maka hanya dalam hitungan puluhan atau beberapa tahun saja sudah dapat terjadi Eutrofikasi.
3.2 Penyebab Eutrofikasi
Beberapa detergen mengandung phospat, oleh karana itu deterjen juga merupakan sumber pnyebab eutrofikasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Walaupun banyak undang-undang dan peratauran yang membatasi atau melarang penggunaan detergen yang mengandung phospat, namun sampai saat ini belum berdampak pada eliminasi masalah eutrofikasi.
selain P (fosfor) senyawa lain yang harus di perhatiakan adalah nitrogen. Distribusi penggunaan pupuk nitrogen terus meningkat dar tahun ke tahun. Komponen nitrogen sangat mudah larut dan mudah berpindah di dalam tanah, sedangkan tanaman kurang mampu menyerap semua pupuk nitrogen. Sebagai akibatnya, rembesan nitrogen yang verasal dari pupuk yang masuk kedalam tanah semakin meluas, rembesan nitrogen yang berasal dari pupuk yang masuk kedalam tanah semakin meluas, tidak terbatas pada area sandy soil. Sejumlah kelebihan nitrogen akan berakhir di air tanah. Konsentrasi nitrogen dalam bentuk nitrat secara bertahap meningkat di beberapa mata air di areal pertanian, yang akan menyebabkan terganggunya kesehatan manusia yang mengkonsumsi air tersebut sebagai air minum.
Dalam tanah, pupuk N akan dengan cepat melepas amonium dan nitrat. Nitrat sangat mudah larut (kelarutannya tinggi) sehingga mudah hilang melalui pelepasan. Hampir 30% N hilang melalui leaching (pencucian). Nitrat masuk kedalam air permuakaan melalui aliran air dibawah permukaan atau drainase dan masuk kedalam air tanah melalui penapisan lapisan tanah sebelah bwah. Pada umumnya konsentrasi N di perairan. Pada umumnya konsentrasi N di perairan meningkat (tinggi) pada saat pemupukan, terutama setelah hujan. Nitrogen dapat pula hilang sebagai amonia dari penggunaan sumber-sumber nutrien organik seperti pupuk, pupuk cair (slury). Adanya amonia di perairan dapat menjadi indikasi terjadinya kontaminasi oleh pemupukan yang berasal dari material organik. N tinggi juga berasal dari peternakan terbuka. Dari laporan penelitian di UK ditunjukkan bahwa area peternakan menghasilkan limbah N lebih dari 600 kg/ha/hari dan yang hilang/lepas ketanah dapat mencapai 200 kg/ha.
3.3 Dampak Eutrofikasi di Perairan
Efek dari eutrofikasi moderat pada perairan yang miskin nutrien tidak bersifat negatif. Peningkatan pertumbuhan alga dan berbagai vegetasi dapat menguntungkan bagi kehidupan fauna akuatik. Salah satu contoh adalah produksi ikan meningkat. Jika eutrofikasi terus berlanjut, pertumbuhan plankton menjadi sangat lebat, sehingga menutupi perairan. Proses ini akan mengakibatkan gelap di bawah permukaan air, dan kondisi ini berbahaya bagi vegetasi bentik. Problem yang serius akibat eutrofikasi ditimbulkan oleh petumbuhan alga sel tunggal secara hebat, proses dekomposisi dari sel yang mati akan mengurangi oksigen terlarut. Tanaman akuatik (termasuk alga) akan mempengaruhi konsentrasi O2 dan pH perairan disekitarnya. Pertumbuhan alga yang pesat, akan menyebabkan fluktuasi pH dan oksigen terlarut menjadi besar pula. Hal ini akan menyebabkan terganggunya proses metabolik dalam organisme, yang akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Di perairan yang sangat kaya akan nutrien, produksi plankton dapat menjadi sangat berlebihan. Spesies plankton tertentu muncul secara berkala dalam kuantitas yang sangat besar, yang sering dikenal sebagai “algal bloom”. Beberapa alga tertentu dapat menimbulkan bau dan rasa yang tidak sedap di perairan, dan mengakibatkan konsekuensi yang sama jika perairan menerima material organik dari sumber-sumber pencemar, yaitu sejumlah besar oksigen dalam air terkonsumsi ketika sejumlah besar plankton yang mati berpindah ke dasar perairan dan terdegradasi. Defisiensi oksigen dapat mengurangi kehiupan bentik dan ikan. Jika perairan bentik menjadi de-oksigenasi, hidrogen sulfid (H2S) akan meracuni semua bentuk kehidupan di perairan. Akhirnya eutrofikasi berat dapat menimbulkan pengurangan sejumlah spesies tanama dan hewan di perairan.
Secara singkat dampak eutrofiaksi di perairan dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Rusaknya habitat untuk kehidupan berbagai spesies ikan dan invertebrata. Kerusakan habitat akan menyebabkan berkurangnya biodiversitas di habitat akuatik dan spesies lain dalam rantai makanan.
2. Konsentrasi oksigen terlarut turun sehingga beberapa spesies ikan dan kerang tidak toleran untuk hidup.
3. Rusaknya kualitas areal yang mempunyai nilai konservasi/ cagar alam margasatwa.
4. Terjadinya “alga bloom” dan terproduksinya senyawa toksik yang akan meracuni ikan dan kerang, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi masyarakat dan merusak industri perikanan. Pada masa kini hubungan antara pengkayaan nutrien dengan adanya insiden keracunan kerang di perairan pantai/laut meningkat
5. Produksi vegetasi meningkat sehingga penggunaan air untuk navigasi maupun rekreasi menjadi terganggu. Hal ini berdampak pada pariwisata dan industri pariwisata.

3.4 Penanggulangan dan Pencegahan Eutrofikasi
Dalam banyak hal, cara yang paling efektif untuk menangani eutrofikasi yang disebabkan oleh kelebihan phospat adalah dengan memakai pendekatan yang terintegrasi untuk mengatur dan mengontrol semua masukan nutrien, sehingga konsentrasi nutrien dapat direduksi menjadi cukup rendah sehingga tidak menyebabkan alga bloom. Pendekatan yang sama akan bermanfaat juga untuk mengatasi masalah eutrofikasi yang disebabkan oleh nitrogen. Oleh karena itu kontrol tersebut harus juga mengurangi kehilangan P dan N, dengan demikian dari sudut ekologi juga akan mendatangkan keuntungan. Jika meningkatnya jumlah P yang lepas/hilang berhubungan erat dengan erosi dn hilangnya sedimen secara besar-besaran, maka dengan kontrol erosi diharapkan dapat dicapai peningkatan kualitas melalui pengurangan dampak negatif sedimen di sistem akuatik.
Perlakuan-perlakuan yang cukup signifikan untuk mengontrol eutrofikasi adalah dengan melakukan perombakan phospat pada buangan kotoran, pengontrolan phospat yang tersifusi dari pertanian, perombakan phospat dari deterjen, pengalihan tempat pembuangan kotoran. Cara yang sukses untukk mengontrol P akan membawa keuntungan bagi lingkungan. Salah satu cara yang paling efisien untuk mengurangi dan mengontrol konsentrasi P di perairan adalah dengan membatasi atau mengurangi beban nutrien dari sumber utama dan meningkatkan teknologi perombakan nutrien dari buangan kotoran (sewage). Jika pertanian adalah P yang signifikan, maka pengurangan buangan P dipandang dari sudut kepraktisannya dan biayanya tidak efisien dari tanah pertanian dan sangat sulit untuk menentukan faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang berpengaruh bervariasi dari sistem pertaniannya, tipe tanah dan kondisi wilayahnya. Namun kehilangan P pada hakekatnya dapat dikembalikan ke sistem pertanian, sedangkan yang lainnya dapat dikontrol oleh petani sendiri misalnya dengan menyebar pupuk tiak pada musim hujan.
Untuk mencegah dan mengeliminasi aliran nitrogen sangat sulit. Sejumlah artificial wetland dapat dibuat sepanjang aliran air dan sungai di areal pertanian untuk menangkap kandungan nitrogen dalam air yang akan mengalir ke laut. Selain itu upaya lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan sistem pengolahan limbah domestik. Pada saat ini, pengolahan limbah domestik di pesisir pantai dan kota besar harus melibatkan proses pengurangan nitrogen secara biologi, karena perlakuan secara kimiawi hanya mengurangi sejumlah kecil kandungan nitrogen dalam limbah cair. Pada hakekatnya mengaurangi konsentrasi nutrien pada sumbernya meruapak upaya yang sangat penting karena mengurangi input nutrien ke dalam lautan seperti yang kita harapkan sangat sulit untuk dicapai.
Sebagian besar P terlarut dengan segera dipakai oleh kegiatan biologis. P sedimen tidak segera tersedia tetapi menjadi sumber P untuk jangka waktu yang lama bagi biota aquatik (Ekholm 1994). Untuk mereduksi lepasnya P dari areal pertanian kedalam air, langkah yang harus dilakukan adalah meningkatkan efisiensi penggunaan P dengan cara menyeimbangkan masukan P (P input) dalam pakan dan pupuk deagn luaran P (P output) dalam produksi tanaman dan hewan dan mengatur level P dalam tanah. Untuk mereduksi lepasan P dalam aliran pertanian dapat dilakukan dengan cara mengontrol sumber dan transportasinya. Lepasan P dari tanah pertanian yang terbawa melalui aliran air permukaan dan erosi mungkin lebih mudah untuk direduksi dan pada umumnya telah berhasil dilakukan, namun demikian perhatian masih sangat kurang terhadap pengaturan sumber P di tanah. Seperti kita ketahui bahwa sumber P tanah terutama berasal dari pemupukan (pupuk kimia, organik, kompos, pupuk kandang) maka pengaturan sistem pertanian yang ramah lingkuanga harus segera dikembangkan. Untuk mengatur pengurangan dampak P terhadap lingkungan, setidaknya ada dua faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu sumber Pdan transportasinya. Timbulnya dampak P terhadap lingkungan tentunya karena ada sumber P (tanah dengan konsentrasi P tinggi, penggunaan kompos, pupuk kandang dan pupuk kimia) dan ada transportasi atau perpindahan P ke lokasi yang rawan (rawan terhadap leaching, pengaliran, erosi). Masalah akan muncul jika ada interaksi dari kedua faktor tersebut. Sumber yang tinggi dengan kecilnya kemungkinan untuk perpindahan, mungkin tidak akan berpengaruh bagi lingkungan. Demikian juga sebaliknya jika kemungkinan terjadinya perpindahan tinggi namun sumbernya kecil maka juga tidak akan berpengaruh buruk terhadap lingkungan. Oleh karena itu pengaturan harus difokuskan pada area dimana kedua kondisi tersebut bertemu. Area tersebut dikenal sebagai “critical source area”. Penentuan titik titik rawan tersebut menjadi sangat penting dan harus segera dilakukan di kawasan Bopunjur sehingga eutrofikasi dapat dicegah. Langkah lain yang juga sangat penting untuk mencegah terjadinya kurasakan lingkungan perairan pada umumnya, khususnya eutrofikasi adalah kerusakan lingkungan perairan pada umumnya, khususnya eutrofikasi adalah dengan mengurangi konsentrasi pencemar dalam limbah cair industri, dan limbah domestik sampai ke tingkatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sebelum limbah tersebut memasuki perairan umum. Untuk itu maka teknologi pengolahan limbah yang efisien, dan secara ekonomi dan ekologi menguntungkan sangat dibutuhkan.

BAB IV
KESIMPULAN
Dari tinjauan pustaka dan penjelasan di bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:
 fosfor dan nitrogen merupakan elemen kunci di dalam proses eutrofikasi, di antara nutrient utama yang terkandung dalam suatu perairan.
 Eutrofikasi dapat menyebabkan Terjadinya “alga bloom” dan terproduksinya senyawa toksik yang akan meracuni ikan dan kerang, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi manusia dan merusak industri perikanan.
 Perlakuan-perlakuan yang cukup signifikan untuk mengontrol eutrofikasi adalah dengan melakukan perombakan phospat pada buangan kotoran, pengontrolan phospat yang tersifusi dari pertanian, perombakan phospat dari deterjen, pengalihan tempat pembuangan kotoran.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2001.http://www.internat.naturadsverket.se/documents/pollutants/overgood/eutroe.html).
Anonim, 2010. http://www.trinunnews.com. Cara Cegah Ikan Mati Massal. Diakses pada tanggal 7 april 2011.
Ekholm, P.1994. Bioavailability of phosphorus in agriculturally loaded rivers in southern finland. Hydrobiologia
Battistoni, P., G. Fava, P. Pavan, A. Musacco, dan F. Cecchi (1997), Phosphat Removal in Anaerobic Liquors by Struvite Crystallization without Addition of Chemicals: Preliminary Results, Water Research 31, 2925- 2929.
Finli, 2007. http://finli.blogspot.com/apakah-eutrofikasi-itu.html/. Diakses pada tanggal 7 april 2011.
Forsberg (1998), Which Policies Can Stop Large Scale Eutrophication, Water Science and Technology, Vol 37, Issue 3, , p 193-200
Morse et al 1993 (The Economic and Environment Impact of Phosphorus Removal from Wastewater in the European Community), APHA, AWWA, WEF, (1995), Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, 19th edition, Ed : Andrew D. Eaton, APHA, Washington DC.
Pangesti,2004. Kajian Aspek Pencemaran di Wilayah Jabopunjur; status pencemaran. Lokakarya Nasional “Pengelolaan Kawasan Jabopunjur untuk Pemberdayaan Sumberdaya Air”, Jakarta
Sharpley, A.N. 1994. Wheat tillage and water quality in the Southern Plains. Soil TillagebResearch.
Tusseau-Vuilleman, M.H. 2001. Do food processing industries contribute to the eutrophication of aquatic systems?Ecotoxicol. Environ.

ikan koi

2011
04.12

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistematika dan Ciri Morfologi Ikan Koi
Menurut Effendi (1998) Ikan Koi berasal dari keturunan ikan karper hitam atau ikan Mas yang melalui proses perkawinan silang dan menghasilkan keturunan yang berwarna – warni. Ikan koi memiliki klasifikasi yang sama dengan ikan mas, seperti berikut:
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Super Kelas : Pisces
Kelas : Osteichtyes
Sub Kelas : Actino Ptergll
Ordo : Cypriniformei
Sub Ordo : Cyprinidae
Suku : Cyrinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus Carpiol
Hubungan kekerabatan ikan Mas dan ikan Koi sangat dekat karena memiliki Family, Genus, Dan Speies yang sama .
Menurut Susanto ( 2000 ), Badan ikan Koi berbentuk seperti torpedo dengan gerak berupa sirip. Sirip dada dan sirip ekor ikan koi hanya memiliki jari-jari lunak. Sirip punggung memiliki 3 jari-jari keras dan 20 jari-jari lunak.sirip perut hanya memiliki jari-jari lunak, sebanyak 9 buah. Sirip anus mempunyai 3 jari-jari keras dan jari-jari lunak. Pada sisi Badan dari pertengahan batang sampai batang ekor terdapat gurat sisi yang berguna untuk merasakan getaran suara. Garis ini terbentuk dari urat-urat yang ada di sebelas dalam sisik yang membayang hingga kesebelah luar.

2.2 Habitat Dan Tingkah Laku Ikan Koi
Ikan Koi merupakan hewan yang hidup di daerah beriklim sedang dan hidup pada daerah perairan tawar. Ikan koi dapat hidup pada kisaran suhu 8ºC – 30ºC, oleh sebab itu ikan koi dapat di pelihara di seluruh Indonesia, mulai dari pantai hingga daerah pegunungan. Suhu ideal untuk tumbuh ikan Koi adalah 15ºC – 25ºC. Di daerah yang menpunyai musim dingin, ikan Koi mampu bertahan hidup pada suhu 2ºC – 3ºC. Ikan Koi merupakan ikan yang tudak tahan terhadap perubahan suhu secara drastis . penurunan suhu hingga 5ºC dalam tempo singkat sudah dapat mengakibatkan ikan Koi stress (Tiara dan Murhananto, 2002).
Ikan Koi merupakan ikan air tawar, akan tetapi ikan Koi masih dapat hidup pada air yang agak asin. Ikan Koi masih bisa bertahan hidup pada air dengan salinitas 10 ppt. Ikan Koi hidup pada ppt netral, akan tetapi ikan Koi masih bisa hidup pada ppt yang agak biasa. Kisaran pH yang dibutuhkan ikan Koi agar tumbuh sehat yaitu pada kisaran 6,5 – 8,5 sedangkan nilai kesadahan yang dapat ditoleransi ikan Koi adalah 20 hardness (DH) (Effendy, 1993).

2.3 Sifat Biologi
Pertumbuhan ikan Koi tergantung pada suhu air, pakan dan jenis kelamin. Tidak ada hewan air yang mempunyai pertumbuhan tidak teratur seperti ikan Koi. Dalam tempo setengah tahun ikan Koi tumbuh sangat cepat. Pertumbuhan ikan Koi, berat dan panjang badannya berdasarkan umurnya dapat dilihat dari tabel sebgai berikut:

Tabel 1
Berat dan Panjang Badan Ikan Koi berdasarkan Umurnya
Umur ( tahun ) Panjang ( cm ) Berat ( gr )
1

2

3

5

10 10 – 20

24 – 30

27 – 40

45 – 50

55 – 70 75 – 100

188 – 375

563 – 938

1.125 – 2.250

2.620 – 11.875
Sumber : Agromedia Pustaka ( 2002 ) dalam anonymous ( 2002 )
Umumnya ikan Koi jantan mempunyai bentuk tubuh langsing, sedangkan ikan Koi betina bentuk tubuhnya agak membulat. Sampai umur 2 tahun, ikan Koi jantan tumbuh pesat dibandingkan ikan Koi betina. Namun setelah umur 2 tahun ikan Koi betina tumbuh pesat dibandingkan ikan Koi jantan, betina tumbuh lebih pesat dari pasangannya.

2.4 Pakan dan kebiasaan Makan
Menurut Effendy (1993), ikan Koi bersifat omnivore, artinya pemakan segala jenis pakan. Dengan demikian dapat diberikan jenis pakan yang beranekaragam, misalnya ikan kecil, kerang – kerangan atau jenis tumbuh – tumbuhan. Pakan utama anak Koi adalah udang – udang renik seperti aphnia. Sejalan dengan pertumbuhan badannya mereka dapat mmakan serangga air, jentik – jentik nyamuk atau lumut – lumut yang menempel pada tanaman. Pakan ikan Koi akan mempengaruhi pembentukan zat warna tubuhnya. Tubuh ikan Koi yang berwarna – warni disebabkan oleh adanya zat warna yang antara lain : zat pigmen karoten (jingga), rutin (kuning), atasantun (merah). Zat – zat tersebut di alam bebas dapat dijumpai pada tubuh hewan atau tumbuhan tertentu yang dapat dijadikan pakan ikan Koi untuk meningkatkan warna tubuh ikan Koi yang dipelihara.
Menurut Susanto (2002), di daalam air ikan Koi mampu mengenali pakannya dan bahkan mencarinya diantara lumpur didasar kolam, karena ikan Koi mempunyai organ penciuman yang sangat tajam. Organ penciuman ini berupa dua pasang kumis yang terletak pada bagian kiri dan kanan mulutnya. Ikan Koi akan memburu sepotong pakan atau mengaduk – aduk lumpur untuk mendapatkan pakan yang dibutuhkan. Mulut ikan Koi berukuran cukup besar dan dapat disembulkan. Letaknya diujung moncong (terminal). Air bersama – sama pakan memasuki rongga mulut. Pakan yang kecil langsung ditelan dan air ditelan lewat insang setelah keping – keping insang menyerap oksigen yang terdapat di air, pakan masuk kedalam kerongkongan pakan dibawa langsung ke usus yang panjangnya sekitar 5x panjang tubuh.

2.5 Jenis dan Varietas Koi
2.5.1 Koi Kohaku

gambar ikan Koi Kohaku

Kohaku adalah varietas koi yang mempunyai badan putih dengan bercak merah pada badannya. Kohaku boleh dikatakan paling populer di antara varietas koi. Ini bisa dimaklumi sebab corak warnanya langsung mengingatkan orang pada bendera kebangsaan Jepang. Banyak ragam Kohaku. Jenis-jenisnya di antaranya dibedakan berdasarkan banyaknya bercak merah pada punggungnya. Ada yang dua, tiga atau empat, tetapi ada juga yang hanya satu. Inazuma-Kohaku mempunyai warna merah menyerupai bentuk kilat di punggungnya. Gotenzakura adalah Kohaku yang mempunyai bercak merah yang seimbang pada sisi kiri dan kanan punggungnya. Doitsu-Kohaku Napoleon adalah Kohaku Jerman yang mempunyai warna merah seperti topi Napoleon. Fuji Kohaku adalah Kohaku yang mempunyai gumpalan berwarna perak pada kepalanya.

2.5.2 Koi Taisho Sanke

gambar ikan Koi Taisho Sanke

Taisho Sanke adalah koi yang badannya berwarna putih dan-dihiasi dengan warna merah dan hitam. Pola dasarnya merah pada bagian kepalanya, dan garis lebar hitam pada bagian dadanya. Taisho-Sanke termasuk varietas yang terkenal, seperti hal-nya Kohaku.
Tidak jelas sejak kapan koi dengan tiga warna ini muncul. Namun sejak pertengahan jaman Meiji, koi dengan tiga warna sudah ditemukan. Pada awal-nya, yang ada baru koi dengan tiga warna yang se-cara penuh menghiasi sekujur badan koi. Atas jasa Eizaburo Hoshino dari Takezawa, kini telah dapat menikmati koi yang berbadan putih dengan hiasan warna hitam dan merah pada sekujur badannya.
Seperti Kohaku, putihnya Taisho-Sanke harus seputih salju. Warna merah harus seragam dan pekat. Yang bertepi terang lebih penting. Taisho-Sanke di-sebut bagus Jika di kepalanya tidak terdapat warna hitam. Koi yang punggungnya terdapat warna hitam lebar akan lebih bagus dan tampak sangat indah. Tsubo-Sumi adalah koi yang mempunyai badan putih dengan bercak hitam, sedangkan Kasane-Sumi adalah koi yang pada warna hitamnya terdapat di atas bercak merah. Yang paling ideal adalah sirip yang juga mempunyai tiga pola warna. Aka-Sanke adalah Taisho-Sanke yang warna merahnya membentang dari kepala hingga ekor. Koi ini memang sangat mengesankan, tetapi kurang ang-gun. Doitsu-Sanke adalah Taisho-Sanke yang masih merupakan keluarga karper kaca dari Jerman. Aka-Sanke dari karper kaca ini dikenal dengan Doitsu-Aka-Sanke. Fuji-Sanke adalah Taisho-Sanke yang mempunyai gumpalan perak pada kepalanya. Tancho-Sanke adalah koi yang mempunyai warna merah yang lebar pada kepalanya, tapi pada badan-nya tak terdapat warna merah.

2.5.3 Koi Showa Sanshoku

gambar ikan Koi sanshoku
Sebagai bahan pembelajaran, berikut ini kriteria dalam memilih Showa yang baik:
• Untuk warna putih seputih salju, merah semerah darah dan hitamnya pekat.
• Pangkal sirip depan hitam (motoguro). Ingat hanya pangkalnya saja, Tidak putih semua atau hitam semua dan juga tidak ada stripe merah
• Diperlukan tanda Hi (merah) yang besar di kepala.
• Diperlukan paling tidak 20% warna putih. Warna putih diperlukan pada kepala, pangkal ekor dan punggung.
• Komposisi antara warna merah, putih dan hitam adalah 60:20:20
• Sumi (Hitam) dikepala membagi Hi menjadi 2, lebih impresif lagi jika membentuk huruf V dan berpangkal di hidung.
Jenis-jenis Showa:
• Showa Sanshoku.
• Kindai Showa; Showa yang didominasi warna putih.
• Hi Showa; Showa yang didominasi warna merah.
• Boke Showa; Showa dengan sumi yang blur dan muda (abu2).
• Kage Showa; Showa dengan bayangan potongan2 kecil sumi pada Hi atau warna putihnya.
• Doitsu Showa, Kanoko-Showa, Koromo Showa, Showa Shusui, Kin Showa dan Gin Showa.

2.5.4 Koi Utsurimono

gambar ikan Koi Utsurimono

Yang termasuk ke dalam Utsurimono adalah Shiro-Utsuri, Ki-Utsuri, dan Hi-Utsuri. Masing-ma-sing jenis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Shiro-Utsuri adalah koi yang mempunyai warna putih berbentuk kerucut pada badannya yang hitam. Pada lipatan sirip dadanya terdapat warna hitam. Shiro-Utsuri sering disebut juga sebagai Shiro-Utsushi. Shiro-Utsuri untuk pertama kalinya dihasilkan oleh Kazuo Minemura dari Mushigame di perkampungan Yamakoshi. Warna putih pada Shiro-Utsuri harus seperti salju, sedang warna hitamnya sebagai pendukung utama seperti halnya pada Showa-Sanke (Showa-Sanshoku).
Ki-Utsuri adalah koi yang mempunyai bentuk kerucut berwarna kuning pada badannya yang hitam. Ki-Utsuri muncul pada awal sejarah koi. Ki-Utsuri sudah ditemukan sejak awal jaman Meiji. Hanya saja waktu itu namanya Kuro-Ki-Han (ber-tanda hitam dari kuning). Barulah pada tahun 1920 Eizaburo Hoshino memberinya nama Ki-Utsuri. Warna hitamnya harus pekat dan bentuk kerucutnya berwarna kuning dengan pangkal sirip dadanya bergaris-garis.
Hi-Utsuri adalah koi yang warna kuningnya me-nyerupai warna merah. Warna hitamnya sangat kon-tras dengan warna merah. Koi ini umumnya sangat memikat banyak orang, karena warnanya mampu menyaingi Kohaku, Showa-Sanke, ataupun Taisho-Sanke. Badan Hi-Utsuri yang bagus tidak boleh ber-noda. Pada sirip dadanya terdapat garis-garis. Jenis-nya adalah Utsuri-Doitsu yaitu Utsurimono yang merupakan keluarga koi Jerman, Kage-Utsuri, Ginshiro, dan Ogon-Utsuri.

2.5.5 Koi Asagi

gambar ikan Koi Asagi

Koi biru keabu-abuan dengan warna merah di sisi badannya, sisi kepala dan sirip.

2.5.6 Koi Ogon yang Keemasan

gambar ikan Koi Ogon yang Keemasan

Ogon adalah koi yang mempunyai badan berwarna emas (golden). Ogon merupakan koi yang di-temukan oleh Sawati dan anak laki-lakinya pada tahun 1946. Pada awalnya, mereka menemukan koiyang garis punggungnya berwarna kuning, yang kemudian dipakainya sebagai induk. la memilih koi yang terbaik, dan setelah empat atau lima generasi kemudian, didapatnyalah koi berkepala emas, dan “berkepala perak, serta koi berwarna kuning. Dengan rnengawinkannya bersama betina Shiro-Fuji, akhir-nya koi bersisik emas dihasilkannya.
Ciri-ciri Ogon adalah sebagai berikut:
– Kepalanya selalu berwarna keemasan cerah.
– Sisiknya dihiasi dengan warna keemasan. Koi yang mempunyai sisik lebar pada daerah perut-nya, termasuk jenis yang dicari.
– Sirip dadanya hams berkilauan.
– Bentuknya bagus.
– Warna koi yang bagus tidak berubah menjadi gelap, meskipun suhunya naik.
Nezu-Ogon adalah panggilan untuk koi yang berwarna perak, sedangkan Platinum-Ogon adalah sebutan untuk koi hasil ternakan Tadao Yoshioka (1963) yang merupakan peranakan dari Kigof dan Nezu-Ogon. Sesuai namanya, koi ini mempunyai badan yang berkilauan seperti platinum.
Yamabuki-Ogon adalah sebutan untuk koi yang mempunyai badan berkilauan seperti emas murni. Koi ini merupakan hasil perkawinan Kigoi dan Ogon yang dilakukan Masaoka pada tahun 1957. Orange-Ogon adalah Orange-Hikarimono yang muncul per-tama kali pada tahun 1956.
Koi yang mempunyai kepala yang jernih dan sisiknya berkilauan dan warnanya merah disebut Hi-Ogon. Perkawinan antara Matsuba dengan Ogon menghasilkan Kin-Matsuba. Kin-Matsuba mempunyai sisik timbul yang sangat terang. Kin-Matsuba yang mempunyai sisik seperti platinum dinamakan Gin-Matsuba. Platinum-Doitsu adalah koi Jerman yang mempunyai sisik berkilauan seperti platinum, sedangkan Orange-Doitsu mempunyai badan ber-warna oranye. Mizuhi-Ogon adalah Orange-Ogon yang mempunyai sisik hitam berkilauan pada bagi-an punggungnya.
2.5.7 Koi Kin Ginrin
Kin Ginrin adalah Koi dengan sisik keemasan atau keperakkan.

2.5.8 Koi Bekko

Shiro Bekko Ki Bekko Aka Bekko
Bekko masih keluarga Taisho-Sanke. Warna dasarnya merupakan perpaduan putih, merah, dan kuning. Sementara itu -warna hitam menjadi peng-hias di antara warna-warna tersebut. Macam-macam Bekko yang ada misalnya Shiro-Bekko, Aka-Bekko, Ki-Bekko, dan Bekko-Doitsu.
Shiro Bekko adalah Taisho-Sanke yang tidak punya warna merah. Garis hitam menghiasi kulitnya yang putih. Koi ini disebut bagus Jika pada kepala-nya tidak terdapat warna hitam. Seandainya ada, warna hitam tersebut Jangan sampai merusak keseimbangan warna secara keseluruhan. Warna hitam yang lebar pada punggungnya sangat diharap-kan, sedang warna putih pada kepalanya tidak boleh kecokelatan. Pada sirip dada terdapat garis-garis yang cantik, tapi ada beberapa koi yang tidak mem-punyainya.
Aka-Bekko adalah koi yang mempunyai tanda hitam pada permukaan tubuhnya yang merah. Per-bedaannya yang mencolok dibandingkan dengan Aka-Sanke adalah Aka-Bekko tidak memiliki bagian yang berwarna putih asli, sedangkan Aka-Sanke mempunyainya. Aka-Sanke (Red tricolor) boleh di-katakan sebagai Bekko yang mempunyai warna merah, hitam, dan putih (yang biasanya terdapat pada perutnya). Aka-Bekko yang memiliki warna merah pekat sangat diharapkan, tapi umumnya sangat jarang.
Ki-Bekko adalah koi kuning yang mempunyai tanda hitam, sedangkan Bekko-Doitsu adalah Bekko dari koi asal Jerman.

2.5.9 Koi Tancho

Tancho Goromo Tancho Kohako Tancho Goshiki

Tancho Kujaku Tancho Sanke
Tancho adalah Koi dengan bulatan merah di kepalanya. Berdasarkan pattern/pola warna lain dibadannya, Tancho dibedakan jenisnya antara lain:Tancho Kohaku, Tancho Kujaku, Tancho Sanke, Tancho Goshiki dan Tancho Goromo.

2.5.10 Koi Koromo atau Goromo

gambar ikan Koi Koromo atau Goromo
Koromo diberikan bagi keturunan Asagi dengan Kohaku atau peranakan dari Asagi dengan salah satu Sanshoku. Macam-macam Koromo adalah Ai-goromo (Blue-Koromo), Sumi-Goromo (Dark-Koro-mo), Budo-Sanshoku, Koromo-Sanke, Koromo-Showa (Ai-Showa).
Ai-goromo adalah peranakan Asagi dengan Kohaku. Sisiknya yang berwarna merah mempunyai lingkaran tepi biru yang membuatnya tampak cantik.
Sumi-goromo adalah koi yang warna hitamnya seperti yang tampak pada bercak hitam Kohaku. Pada kepalanya juga terdapat warna hitam ini. Koi yang mempunyai sisik ungu berbentuk seperti dom-polan buah anggur diberi nama Budo-Sanshoku. Koi ini benar-benar indah. Koromo-Sanke merupakan peranakan dari perkawinan Ai-goromo dan Taisho-Sanke. Tanda biru keluar pada bercak merah pada Taisho-Sanke. Koromo-Showa (Ai-Showa) adalah peranakan dari Ai-goromo dan Showa-Sanshoku. Tanda biru keluar dari bercak merah pada Showa-Sanshoku.

2.6 Kualitas Air
Khairuman dan Sudenda (2002), menyatakan kualitas air merupakan hal penting yang diperhatikan dalam budidaya ikan. Air yang kurang baik akan menyebabkan ikan Koi mudah terserang penyakit. Kualitas air memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kelulusan hidup dan pertumbuhan ikan. Rendahnya kualitas sifat fisik dan kimia air yang digunakan pada tempat – tempat pembenihan akan berakitan rendahnya produksi benih ikan. Sifat – sifat dan kimia air tersebut antara lain:
 Kecerahan
 Oksigen terlarut
 pH
 CO2
 Suhu
 Kekeruhan
 Warna

Dan unsur – unsur kalium yang mempengaruhi aktifitas hidup ikan secara langsung mampu secara tidak langsung. Kualitas air yang baik untuk induk Koi yaitu pH air berkisar 6,5 – 8 dengan suhu antara 26 – 28 °C, kandungan DO minimum 3 – 5 ppm dan ammoniak 0,01 ppm, sedangkan untuk larva kandungan DO minimum 6 ppm (Prihal et al., 1998).

2.7 Hama dan Penyakit Ikan
Hama yang sering menyerang ikan Koi yaitu kucing dan musang. Ikan Koi sering berenang ke permukaan air ketika seseorang mendekati kolam, sehingga mudah dimangsa oleh hewan pemangsa seperti kucing, burung elang, ular dan bangau sering juga memangsa ikan Koi yang masih kecil. Pertumbuhan kolam yang memenuhi syarat misalnnya kontruksi dinding kolam yang dibuat agak tinggi dapat mencegah masukkmya ganggunan hama pemangsa ikan Koi (Trubus, 2001).

Selama hama penyakit juga dapat menimbulkan kematian pada ikan Koi. Penyakit yang menyerang ikan Koi diantaranya penyakit lumpur (kuit mngalami iritasi), white spot (bintik putih), lernea, kolumnaris, jamur, saprolegnia, cacing kulit, argulus dan penyakit harves. Penyakit harves merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian massal pada ikan Koi. Saat ini belum ditemukan obat yang cocok untuk menaggulangi penyakit ini. Upaya pencegahan dilakukan dengan cara meningkatkan pengelolaan usaha budidaya, desinfeksi peralatan, pengeringan, pengapuran dasar kolam dan pemberian pakan yang cukup dan berkualiatas. Terhadap ikan yang baru masuk, karantina merupakan cara yang tepat untuk mencegah penyaki tersebutt (annonimous,2002).

Stress and Fish Health

2010
05.29

Stress is present in the lives of all living things and is the force that brings about physical change and adjustment. Small amounts of stress can be harmless or even beneficial, but high levels of stress or prolonged periods of stress can create severe health problems. Many people are aware of stress in their own lives and can name many of the causes as well as possible treatments. Read the rest of this entry »

MORFOLOGI IKAN

2010
05.29

Bagian-bagian Tubuh Ikan
Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Read the rest of this entry »

Anatomi dan Biologi Ikan

2010
05.29

DEFINISI IKAN (PISCES)
Bertulang belakang (termasuk vertebrata), habitatnya perairan, bernapas dengan insang (terutama), bergerak dan menjaga keseimbangan tubunya menggunakan sirip-sirip, bersifat poikilotermal. Read the rest of this entry »

Alasan Ikan Amis

2010
05.29

Orang cenderung menghubungkan bau amis ikan dengan pasar dan restoran karena menurut mereka dimana mereka dapat mencium bau amis ikan? Akan tetapi ikan tidak harus bau amis, apabila ikan tersebut benar-benar segar. Read the rest of this entry »